Rabu, 11 Mei 2011

schizophrenic cepat lelah?

Ada sahabat ODS yang mengeluh mengapa dia merasa cepat lelah. Sebenarnya aku juga merasa demikian. Seringkali kepalaku pusing dan mendadak sakit. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, sebenarnya kegiatanku sama dengan mereka.Namun kalau dibuat berpikir agak berat. aku jadi cepat stress.

adakah sahabat yang punya cara yang jitu untuk mengatasinya?

Seorang teman mengatakan dengan minum vitamin badan jadi lebih segar. Apalagi minum madu dan habatussaauda'. Hmm... sepertinya aku harus mencobanya.
yang pasti sekarang bagaimana caranya mengatur waktu agar bisa produktif. Bekerja dan belajar... utamanya mengerjakan skripsi...
Yang satu ini memang bikin stress dan kepala pusing. Orang normal aja merasa berat mengerjakan skripsi. Apalagi ODS seperti aku....

Tapi yakin aja dengan pertolongan Allah.. pasti semuanya akan berjalan dengan sukses....

Everything will be alrite guys.......

Sabtu, 05 Maret 2011

Slowly but surely


Slowly but surely. Perlahan tapi pasti akhirnya aku bisa melewati masa-masa sulit yang menguras emosi. Mulai dari belajar menahan marah, tidak ngomel:), atau pun terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu. Aku mulai belajar bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik. Terutama dalam memanajemen diri sendiri. Bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu dalam satu hari agar tidak terbuang sia-sia,

Aku belajar untuk mem-planning apa yang bisa kukerjakan esok hari. Memilah-milah kebutuhan mana yang harus di dahulukan. Menyeleksi masalah mana yang benar-benar harus dipikirkan dan mana yang kita lalui begitu saja. Aku mulai mengidentifikasi mana yang baik dan bermanfaat bagiku, dan mana yang kurang penting. Belajar mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, dan tidak grusa-grusu.

Jika dahulu, aku melakukan apa saja yang kusukai tanpa memperdulikan bagaimana perasaan orang lain. Sekarang aku mulai bisa "membaca" perasaan seseorang. Apakah orang itu nanti tersinggung atau marah dengan apa yang aku lakukan. Seiring berjalannya waktu, aku belajar beradaptasi dengan lingkungan tempatku tinggal. Berinteraksi dengan orang-orang baru. Membuka diri, dan menambah wawasan. biar tidak kuper:)

Kalau Pak "Sigmeund Freud" bilang, penderita skizofrenia tidak bisa memfungsingkan "ego" nya karena "id" yang dominan, sekarang aku sedikit banyak bisa mengendalikan "ego"ku. Rasanya aku bisa menemukan jati diri ku yang sebenarnya. Mulai menapaki dan merencanakan masa depan. Alhamdulillah sekarang aku bisa cari uang sendiri. Aku memberikan les privat dan menjadi asisten dosen di Fakultas tempatku kuliah. Meskipun hasilnya tidak banyak, tapi lumayan bisa untuk menambah uang saku.

Sampai sekarang pun aku masih minum obat. tapi dosisnya sudah dikurangi. Dan perlahan, aku mencoba bisa terlepas dari obat. Meskipun tidak bisa sepenuhnya. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa mandiri. Tidak bergantung pada orang lain. Tidak lagi menyusahkan orang tua. Dan bisa bekerja seperti layaknya orang yang sehat.

Aku tahu, ini semua butuh perjuangan yang tidak mudah. Tapi jika kita berusaha, pastilah kita bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan usaha kita. Bukankah Tuhan tidak tidur? Bukankah Tuhan Mahabaik? Dan bukankah Ia Pemilik Segala Suatu di bumi ini?
Tidak perlu berputus asa dan menagisi apa yang telah terjadi. Kita tidak bisa menghindar dari takdir. Namun kita diberi kekuatan untuk melawan hal-hal buruk yang terjadi pada kita. Tetap semangat dan terus mencoba ^-^

Minggu, 06 Februari 2011

Kopdar KPSI, building friendship and family :)



Alhamdulillah... kopdar KPSI daerah Malang dan sekitarnya telah berjalan dengan lancar.

Al we have done is not just sharing but also bulding friendship and family :)

Seneng banget bisa berbagi bersama ODS, ODB, keluarga penderita, dan para psikolog dan psikiater. Kita bisa banyak belajar dari mereka. Ada Feril yang ODS tapi tulisannya bisa dimuat di Jakarta Post, Annyta yang hobby gambar, Mas David yang meskipun sakit masih sempet jadi asisten Lab. Trus ada bu Yuniar, Bu wiwid,para psikiater yang cantik dan ramah :). Pak Aris, Bu Evi, Bu Tri, dan para caregivers lainnya yang selalu semangat memberikan motivasi pada penderita. Mas Bagus, keluarga penderita yang datang jauh-jauh dari Jakarta banyak berbagi pengalaman dan cerita. Pak Yudhono, yang tetap sabar dan konsisten dalam menghadapi putranya.Dan semuanya yang nggak cukup kalo ditulis di sini. :)

Dari cerita dan pengalaman yang kita bagi bersama ada beberapa "teknik" yang bisa dilakukan ODS dan ODB agar mereka bisa berkomunikasi sekaligus survive dalam menghadapi hidup. Teknik ini bukan sekedar teori tetapi terbukti bisa membantu mereka saat terkena symptomp.
1. Memaknai apa yang terjadi pada kita apa adanya.
Biasanya ODS/ODB cenderung memaknai suatu peristiwa dengan makna "mistis". Misalnya, ketila dompetnya hilang ia mereasa harinya akan dirundung kesialan atau mendapatkan karma dari kesalahannya di masa lalu.
2. Motivasi diri sendiri
Gunakan kata-kata bernada positif, alih-alih negative thinking pada apa yang telah kita lakukan. Berikan apresiasi dan penghargaan pada diri sendiri, seperti : " Alhamdulillah, hari ini aku udah nggak marah-marah lagi, semoga besok emosiku bisa stabil.
3. Berpikiran runtut dan teratur
Untuk mengura pemikiran kita yang cenderung rumit, bisa berdiskusi dengan orang lain. Bisa juga menuliskannya di buku harian, kemudian dibacakan kepada kerabat dekat atau orang yang dipercaya. Dengan begitu orang lain akan mengerti apa yang kita pikirkan.
4. Saran dari Mas Nadhif, mahasiswa psikologi semester akhir yang sedang melakukan penelitian : teknik menjaga kontak mata dengan lawan bicara, keep smile, mengatur tinggi rendahnya suara, intinya meningkatkan kecerdasan interpersonal kita agar bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.

Namun cara apa pun yang kita lakukan untuk bisa sembuh dari penyakit ini, butuh waktu yang lama untuk melakukan proses belajar. Penyakit ini tidak sama dengan sakit flu yang sekali minum obat besok langsung sembuh.
Skizofrenia, bipolar dan gangguan kejiwaan lainnya merupakan sebagian refleksi dari luka hati, kekecewaan, keputusasaan, kebimbangan dan keterpurukan seeorang. Perlu waktu untuk menyembuhkannya. Tidak hanya dari sisi medis saja, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan penderita itu sendiri.

So, tetap semangat . Mari kita hapus stigma negatif pada penderita skizofrenia. Kita buktikan kalau kita isa mandiri dan berpikiran dewasa. Chayoo!!!

Jumat, 04 Februari 2011

Pada suatu ketika


Wong takon
Wong sing tur kang angkoro
Antarane riko aku iki

Sumebar ron ronane koro
Janji sabar
Sabar sak wetoro wektu

Kala mangsane
Titi kolo mongso

Pamudjiku ti biso
Sinutra korban jiwanggo
Pamungkase kang tur angkoro
Titi kolo mongso

by sudjiwo Tedjo

Buat sahabatku I**a
yang telah pergi mendahuluiku


Malam ini, aku tak sabar menunggu pagi
besok ada kopi darat KPSI Malang
aku telah mengundang banyak ODS, ODB, dokter, peneliti.
Dan aku berharap mereka datang.

Ka, kau tahu ini adalah impianku
sejak kau pergi
memilih jalan sunyi mu sendiri
aku berjanji
tidak akan membiarkan orang lain memilih jalan sepertimu
bukan berarti aku menyalahkan apa yang telah kau putuskan
tapi itu terlalu sakit Ka,
dan kau sendirian
terlalu banyak luka yang kau sembunyikan
terlalu banyak beban yang harus kau tanggung

saat itu aku tak bisa berbuat banyak
dan aku pun membiarkan mu pergi begitu saja
aku.... tidak bisa melakukan apa-apa

Kini aku bisa Ka.... aku bertemu orang-orang hebat yang penuh semangat

tapi kau tidak ada........
aku menjalaninya sendirian

maaf kan aku yang terlalu lama bersembunyi di balik sikap pengecutku
tidak berani menantang badai
kini aku berani Ka...
aku bisa berdri

tapi kau tak ada
kau tak ada
kau tak ada.................

Minggu, 09 Januari 2011

Mozaik, Mencari Kepingan Puzzle yang Terserak


Hidup, bagaikan sebuah mozaik. Setiap waktu yang kita lewati, kejadian yang kita alami adalah kepingan puzzle yeng terserak. Satu demi satu kepingan-kepingan itu akan kita temukan menjadi sebuah gambaran utuh diri kita.

Mungkin, sebagian orang akan dengan mudah menemukan kepingan puzzle dan menyusunnya menjadi sebuah gambar yang utuh. Namun tidak sedikit orang yang dengan bersusah payah mencari kepingan puzzlenya, bahkan ketika menemukannya pun, ia tidak segera bisa mengenali, gambar mana yang mencerminkan dirinya.

Orang Dengan Skizofrenia adalah satu dari sedikit orang itu. Ia tidak bisa melihat gambaran dirinya dengan jelas. Sangat sulit baginya untuk mendefinisikan perasaan apa yang berkecamuk di hatinya. Apakah dia sedih atau bahagia. Apakah dia benci atau cinta. Kadang dalam tawanya ia menangis, begitu pula ia tertawa dalam tangisannya.
Apa yang terjadi dalam hidupnya masih menjadi misteri. Seperti hutan Rata Penuhlebat yang pekat tiada cahaya untuk disusuri. Seperti mencari bayangan di saat gerhana. Ia bahkan tidak pernah tahu sampai kapan ini berakhir.

Maka, ia perlu seseorang yang mencintai dan mengasihinya dengan tulus. Seseorang, yang membantu menemukan puzzle-puzzle yang terserak diantara puing-puing hati yang rapuh. Lalu menyusunnya menjadi suatu gambaran yang utuh. Mengambilkan cermin dan berkata, ini lah dirimu yang sebenarnya. Begitu indah dengan keunikannya.

Seandainya semua orang di dunia seperti itu. Berani menghadapi kehidupan, berani mendampingi, berani mengajak berjalan bersama. Tidak merasa malu atau merendahkannya. Mungkin, akan ada secercah cahaya untuk penderita skizofrenia. Bisa jadi, mereka lebih tegar dalam menghadapi hidup. Tak kan pernah terbersit dalam pikiran mereka untuk mengakhiri hidup sebelum tiba saatnya. Bangsal-bangsal rumah sakit jiwa pun akan semakin sepi pengunjung.

Dari sedikit orang yang berani itu, merekalah orang-orang yang terkumpul dalam kisah Mozaik,Kisah Inspiratif tentang Mereka yang Hidup Bersama Orang dengan Skizofrenia. Mbak Tika, seorang dokter yang tidak pernah lelah dan putus asa memberikan motivasi pada pasiennya. Dia lah saksi dari ketidakadilan dan kedzoliman yang dialami ODS. Mas Bagus, seorang adik yang selalu setia mendampingi kakaknya melewati masa-masa sulit, ketika orang lain tidak perduli padanya. Mbak Iva adalah seorang anak yang begitu mencintai ibunya, separah apa pun kondisinya. Dalam hatinya, sang Ibu adalah orang yang paling hebat di dunia. Begitu juga mbak Lofi, dengan kondisi adiknya yang sangat emosional, dengan sabar ia memberikan pengertian dan menjawab setiap lontaran dan bentakan. Bahkan, kondisi anaknya yang berubah seratus delapan puluh derajat dari apa yang ia harapkan, tidak sedikit pun mengurangi rasa cinta pada putranya yang menderita skizofrenia Paranoid.

Ada banyak kisah yang tertulis, pun yang tidak sempat tertuliskan. Ada banyak cinta yang harusnya diabadikan. Tapi apalah arti keabadian, cinta bukanlah batu nisan yang ditancapkan untuk dikenang. Namun cinta sendirilah yang akan terus hidup tanpa mengenal batas ruang dan waktu.
Mozaik, yang disusun oleh dr. Tika Prasetiawati dan Bagus Utomo, dua orang aktivis pemerhati ODS dan gangguan psikomatis, seperti oase di padang gurun bagi mereka yang mendampingi para ODS. Kisah-kisah dalam buku ini mengajarkan kita, sesulit apa pun kondisinya, tidak ada alasan untuk menelantarkan ODS begitu saja.
Dengan cinta dan ketulusan hati, mereka membuktikan badai sehebat apa pun bisa dihadapi.
Hingga perlahan akhirnya mereka melihat pelangi harapan yang muncul seusai hujan.


Jika saja boleh memilih, tak seorang pun mau ditakdirkan menjadi penderita skizofrenia (Tika Prasetiawati, 2010:121). Namun, tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari takdir. Kehidupan ini pun tercipta karena campur tangan Takdir. Bisa jadi, Tuhan mendidik kita melalui orang-orang yang butuh kita tolong. Tuhan menguji kesabaran kita melalui keluarga yang jauh dari harapan dan idealisme kita. Agar kita belajar memeberi, mengasihi, dan ikhlas menerima.


Senin, 13 Desember 2010

one litre of tears-one litre of my tears



Konayuki mau kisetsu wa itsumo sure chigai
Hitogomi ni magirete mo onaji sora miteru no ni
Kaze ni fukarete nita you ni kogoeru no ni

Boku wa kimi no subete nado shitte wa inai darou
Soredemo ichi oku nin kara kimi wo mitsuketa yo
Konkyo wa naikedo honki de omotterunda

...................................

Lyric lagu ini terus saja terngiang di telingaku. One Litre of Tears, sebuah film yang menceritakan perjuangan Aya, seorang gadis berkebangsaan Jepang yang menderita penyakit ataksia (Spinocellebral degeneration disease). Melihat film ini, seperti bercermin pada diriku sendiri. Bayang-bayang masa lalu, dan harapan tentang masa depan membuatku tak berhenti mengeluarkan air mata. Seperti air mata Aya yang menghiasi buku hariannya.

Aku menangis, saat Aya menyadari bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Seorang gadis 15 tahun yang penuh mimpi dan cita-cita terpaksa harus menerima realita bahwa dia tak akan menjalani hidup seperti gadis-gadis remaja yang lainnya. Perlahan dia akan kesulitan berjalan, tidak mampu berbicara kecuali sepatah dua patah kata, bahkan untuk makan pun ia perlu minta bantuan pada orang lain.

seketika aku melihat bayangan diriku tujuh tahun yang lalu. Saat usiaku 16 tahun, dokter menyatakan bahwa aku terkena Schizophrenia, penyakit kejiwaan yang sampai sekarang belum ada obatnya. Perlahan aku tidak bisa lancar berbicara, pikiranku selalu bingung. Aku menangis tanpa sebab. Aku lupa pada benda-benda yang penting bagiku. Aku harus menjalani terapi pengobatan, dan terpaksa harus berhenti sekolah. Perlahan teman-teman, sahabatku, dan orang yang kucintai pergi meninggalkanku. Entah karena mereka tidak faham terhadap perubahan diriku, atau mereka terlalu tidak perduli.

Why did the disease choose me?

Aya bertanya pada ibunya sambil menangis. 

Seketika aku teringat pada suatu hari aku pun menanyakan hal yang sama pada ibuku. 

Mengapa harus aku? Mengapa aku yang harus menanggung semua ini? Mengapa tidak yang lainnya? aku masih punya mimpi dan cita-cita yang ingin ku kejar.

Tapi aku berusaha untuk bertahan dengan semua ini. Dengan segala ketidaktahuanku, aku mencari informasi tentang penyakit ini. Dan semakin aku mencari, semakin aku merasakan kerapuhanku untuk bisa bertahan hidup. kenyataan bahwa penderita skizofren akan menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya. Kenyataan bahwa ODS (Orang Dengan Skizofrenia) dipandang sebelah mata, bahkan diasingkan dan dirantai.

Sakit sekali rasanya jika apa yang ku inginkan hanya bisa ku lihat, dan tidak bisa kugapai.

Sakit sekali rasanya melihat orang lain bisa memperolehnya dengan mudah, sementara aku harus bersusah payah.

Sakit sekali rasanya, harus menerima kenyataan bahwa aku tidak mampu menyamai langkah teman-temanku, bahkan dengan berlari sekalipun.

Sakit sekali rasanya, menerima kenyataan bahwa ternyata selama ini aku menjadi beban bagi orang-orang di sekitarku. Mendengarkan keluhan mereka tentang sikap dan tingkah lakuku yang aneh.

Sakit sekali rasanya, bukan karena aku dibenci, tetapi segala usahaku yang tampak sia-sia. Sekeras apa pun aku berusaha untuk menjalani hidup seperti orang normal, tetap saja aku adalah skizofrenik  yang penuh kecemasan dan ketakutan.

Bahkan menatap masa depan pun aku tidak berani.

Jika Aya akhirnya bisa menerima kondisi dirinya dan tetap bertahan untuk hidup, pada akhirnya aku harus menerima kenyataan dan terus berjalan. Meski sesulit apa pun hidup yang kujalani, berkali-kali relaps dan masuk rumah sakit. Tetap saja esok hari aku membuka mata dan menatap sinar matahari pagi. 

Seperti Aya, aku berusaha berdamai dengan diriku. Menerima diriku apa adanya. Menerima kekalahan dan kelemahan. Menerima bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kuraih. Menerima bahwa aku harus terus minum obat, entah sampai kapan. Atau mungkin seumur hidup.

Melihat Aya yang bersemangat dan terus menulis di tengah keterbatasannya. Aku pun mulai bersemangat untuk menuliskan apa yang kurasakan, apa yang ada dalam pikiranku. Karena aku takut, suatu hari nanti aku tidak akan bisa mengingat lagi saat-saat yang paling membahagiakan, bahkan menyedihkan sekalipun. Aku lupa aku pernah mencintai siapa, dan bagaimana rasanya. 

Selama tujuh tahun Aya bertahan hidup, pada akhirnya ia meninggal saat usianya 22 tahun. Sedangkan aku telah melewati tujuh tahun dan hidup sampai saat ini. Sesungguhnya, aku sangat takut bermimpi tentang masa depan. Akan kemana lagi aku setelah ini. Apakah aku akan bekerja, menikah, punya anak dan keluarga seperti teman-temanku yang lainnya.

Yang aku tahu aku masih punya setitik harapan untuk bertahan hidup. demi ayah, ibu, dan adikku. Demi melihat ODS lain yang sama-sama berjuang, demi menuliskan persaan sedih dan bahagia, harapan dan cita-cita.

Agar kelak jika suatu hari nanti aku telah tiada, setidaknya aku bisa memberikan semangat pada  ODS yang lain untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi seburuk apa pun.

In my loneliness and disability, I acutally still want to help others. If theres is no hope today, may be I'll find it tomorrow.....


 




Rabu, 20 Oktober 2010

Siapakah Sesungguhnya yang Gila?

Skizofrenia, yang dulunya merupakan penyakit yang jarang dikenal, rupanya saat ini mulai diperhatikan oleh masyarakat. Pada perayaan Hari Kesehatan Jiwa (HKJS) tanggal 10 oktober kemarin, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) mengadakan workshop dan pameran lukisan penderita skizofrenia. Selain itu mereka melakukan demonstrasi menyuarakan Indonesia bebas pasung 2011. Perayaan itu juga terdapat di daerah-daerah. Seperti di kota Malang, Jawa Timur,Perhimpunan Sehat Jiwa yang dimotori oleh Rumah Sakit Jiwa Lawang, mengadakan jalan sehat dari bundaran tugu ke alun-alun Kota Malang. Mereka bahkan memvisualisasikan pemasungan "orang gila" dengan memperlihatkan orang gila yang dipasung lalu diarak naik mobil pick up. Di bawah mobil itu, kurang lebih tertulis "jangan pasung kami".

Pandangan masyarakat terhadap penyakit skizofrenia memang masih sangat awam. Meskipun baru-baru ini, berita tentang skizofrenia muncul di berbagai media; global TV, kompas, Jawa Pos, namun stigma negatif masyarakat terhadap penyakit ini belum juga hilang. Terbukti masih ada penderita skizofrenia yang dikucilkan oleh keluarganya. Bahkan ada yang dipasung selama bertahun-tahun. Masyarakat masih menganggap penyakit ini sebagai sebuah kutukan atau aib yang perlu disembunyikan.

Perlakuan yang kurang kondusif dari masyarakat membuat penderita merasa rendah diri. Mereka merasa tidak mampu untuk bangkit kembali dari kondisi relaps. Tidak sedikit dari mereka yang masih menikmati halusinasi dan bayangan yang sesungguhnya tidak nyata. Akibatnya, Orang Dengan Skizofrenia (ODS) kurang bisa memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya. Dengan kata lain, mereka dianggap tidak bisa bekerja dan berkontribusi di dalam masyarakat.

Sesungguhnya, jika ditilik dari sejarah, fenomena skizofrenia ini sudah ada sejak sebelum abad ke-18. Tidak hanya skizofrenia, fenomena kegilaan lainnya pun ditemukan pada masyarakat-masyarakat primitif. Focault, seorang postmodernist dari Eropa dalam essaynya Madness and Civilitation menyebutkan bahwa fenomena dukun Shaman mempunyai ciri-ciri kegilaan. Ruth Benedit menemukan bahwa suku Kwakiul ternyata memiliki ciri-ciri paranoia.

Pada akhir abad ke 18 sampai 19 puisi-puisi Hodellin Blake, yang dianggap gila mulai diterbitkan. Begitu juga dengan Raymond Russel seorang penulis yang masuk rumah sakit jiwa, diperhitungkan oleh pengarang Robert Guillbert sebagai titik tolak karya-karyanya. Bahkan Antonio Artaurd, seorang skizofrenik membuat fenomena baru di dunia puisi setelah melemahnya surealisme.

Jika masyarakat modern menganggap ODS sebagai "orang gila" yang termarjinalkan. Harusnya ada alasan yang kuat mengapa masyarakat memiliki pandangan demikian. Kalau "kegilaan" diukur dengan bahasa ODS yang cenderung simbolik dan susah dimengerti, maka pendapat tersebut telah dilemahkan oleh teori dekonstruksi Derrida. Filsuf yang populer pada tahun 1980-an ini, mengemukakan logika berbahasa baru, yang cenderung menegasikan strukturalisme. Hagemoni strukturalisme Saussure yang merumuskan sign sebagai penafsiran dari signifier+signified didekonstruksi menjadi sign=signifier+signified....+signified. Hasilnya, ada sekelompok orang, salah satunya adalah penyair, yang menggunakan logika berbahasa yang keluar dari pakem. Sebagai contoh, Afrizal Malna menggunakan logika berbahasa skizofrenia dalam puisi-puisinya yang bertema postcolonial.

Melihat kondisi tersebut, seharusnya stigma negatif "kegilaan" terhadap ODS perlu dikaji ulang. Karena logika berbahasa ODS, meskipun keluar dari pakem yang telah disepakati, memiliki struktur tersendiri. orang yang memiliki pola bahasa yang berbeda, bukan berarti dia " gila" dan layak dikucilkan. Bukankah teori relatifitas menyatakan tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini, yang ada hanya perbedaan sudut pandang? Bukankah itu berarti yang berbeda dan minoritas bukan berada pada pihak yang salah, namun hanyalah soal perbedaan persepsi?

Pada kenyataanya, dalam kondisi normal, ODS tetap bisa bekerja dan beraktifitas seperti biasa. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berprestasi. Ada pendapat yang menyebutkan mereka adalah orang yang jenius kreatif. Bila dibandingkan dengan masyarakat yang mengaku dirinya "normal dan sehat" namun tidak memiliki iktikad baik untuk bekerja, bisa dibilang ODS mempunyai "bargaining" posisi yang lebih tinggi. ODS tidak memaksudkan dirinya untuk bertindak destruktif, namun ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan dalam dirinya. Tindakan ODS yang dianggap mengganggu masyarakat sesungguhnya bukanlah faktor kesengajaan. Melainkan karena mereka tidak bisa mendefinisikan dan melawan kekuatan aneh yang mengontrol mereka.

Sedangkan para perampok, koruptor, pemimpin yang dzalim menyengsarakan orang lain karena mereka ingin mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Mereka tidak segan-segan menghilangkan nyawa orang lain agar keinginannya tercapai. Bahkan penguasa menindas rakyatnya untuk memperkaya diri sendiri. Kalau seperti ini, siapa sesungguhnya yang gila? siapa yang seharusnya dikucilkan dan dipenjarakan? ODS yang tidak bersalah atau koruptor yang "memakan" uang rakyat? Jawabannya ada di dalam hati masing-masing orang. Apakah masyarakat masih memiliki akal sehat dan hati nurani yang jernih, atau semuanya hilang ditelan ideologi modernisme dan kapitalisme. Dimana yang lebih menguntungkan, itulah yang dianggap benar

Minggu, 23 Mei 2010

seandainya aku bisa

seandainya bisa
hari ini aku akan meminta dokter menyuntikkan "modecate" dosis tinggi ke tuibuhku
atau menaikkan dosis risperidol dan trihexi
minum anti depressan
dan tidur semalaman tanpa bisa bangun lagi

seandainya bisa
aku akan meminta dokter membelah dadaku, lalu membedah jantungku
dan mengiris bagian dari hatiku
yang terpahat namamu

seandainya aku bisa
aku akan meminta dokter untuk membedah otakku
dan mendeteksi bagian otak mana yang menyimpan namamu
lalu mencungkil dan membuangnya

karena aku tidak bisa melupakan
cara berjalanmu
cara berbicaramu
setiap kata yang kau ucapkan
setiap memori yang kita ciptakan

aku sangat tersiksa,
kerinduan yang terpendam menyesakkan dada
bukan pertemuan yang kuharapkan
karena melihatmu, seperti melihat matahari dari dekat
panas membakar tubuhku

seandainya bisa
aku ingin melebur saja bersama udara
yang bisa kauhirup dalam-dalam
dan kau simpan dalam paru-paru mu
aku ingin menyatu dalam darahmu
yang memberi kekuatan padamu untuk terus berlari
mengejar impianmu

seandainya bisa
aku ingin berhenti jadi manusia......

Sabtu, 22 Mei 2010

Tips : cara belajar efektif untuk penderita skizofrenia

kalau sudah minum obat... biasanya kizofrenik tu bawaannya males.. ngantuk...trus rasanya otak berat banget buat mikir. apalagi kalau udah bertahun-tahun vakum dari "dunia pendidikan dan pengajaran", tenggelam dalam halusinasi dan delusi. Atau bagi yang sekarang masih menjalani sekolah atau kuliah pasti bingung ngatur waktu antara kapan minum obat dan kapan belajarnya. Udah kepala pusing, bnyak halusinasi, besokujian lagi... wuih......rasanya capek... banget. capek ati,c apek pikiran..capek badan. so... miza "sang skizofrenik gaul" he he he mau berbagi tips nih buat temen-temen sesama ODS;
1. Manfaatkan waktu luang saat sehat
kalo lagi sehat... jangan nonton Tv atau baca komik mlulu... belajar... belajar!!! biar pinter!
2. Tugas dicicil dikit-dikit
biasanya kalo ada tugas nyicil dulu dikit-dikit dikerjain sambil main-main, sambil dengerin musik.. sambil ngoborl sama temen ntar kan selesai sendiri
3. belajar bisa dimana saja dan kapan saja
belajar tu gak harus di depan laptop atau mantengin buku di meja belajar. bisa sambil piknik, waktu nunggu antrian mandi, waktu di angkot, naik kereta, di bus, di halte, dlll. so kemana2 bawa buku, jurnal, diktat
4. jangan sungkan tanya / diskusi sama temen
belajar bareng ternyata lebih enak lho......
5. intertextualitas
kata Derrida (itu lo.... yang suka dekonstruksi bangunan.... eh salah dekonstruksi hagemoni filsafat barat ) ehm... berat nih :( sebuah teks merupakan "jejak" dari teks yang lain. so kalo buku/diktat yang dikasih dosen terlalu berat, cari aja buku yang lebih ringan bahasanya. meskipun judulnya beda, tapi kalo materi yang dibahas sama itu bisa dijadiin referensi. contoh:
miza menemukan jawaban dari pertanyaan dosen mata kuliah Masyarakat Kesenian Indonesia di bukunya WS Rendra ( lupa judulnya). trus waktu hunting2 buku miza dapet terjemahan novel " The Oldman and The Sea"so bisa jadi pembahasan tugas "Comperative Literature".
Waktu SMa miza belajar biologi dari " Komik GENETIKA". Selain bahasa nya mudah, kita juga lebih paham. ' Seandianya semua diktat kuliah dibikin komik......(mengkhayal mode on)
6 Lebih banyak mengalami/ praktek di lapangan
miza kan jurusan sastra Inggris, karenaitumiza ikut teater biar bisa ngerasain gimana jadi "praktisi" daripada terus-terusan jadi akademisi yang MATERIALISTIS ( kebanyakan MATERI yang masuk tapi gak da prakteknya)
7 bagi yang susah konsentrasi.... tenang.... itu bisa dilatih kok. biasanya sih pake meditasi. tapi bukan meditasi yang seribet yoga. coba aja tiaphabis subuh keluar rumah, ambil nafas dalam-dalam... rasakan setiap hirupan, lalu lepaskan perlahan... nikmati setiap helaannya
8 Pelan-pelan penuh kesabaran
belajar itu gak langsung bisa. Miza dulu waktu di suntik modecate juga lupa cara bicara, cara hitung matematika, apalagi fisika... duh.... tapi kalau kita telaten pasti bisa. Jangan mudah menyerah!!!!
9 Jangan lupa berdoa...
klo lagi mau ujian sholat malem, sholat dhuha, sholat hajat sebelum berangkat kuliah (bagi yang beragama Islam) kalo yang beragama lain ya sesuai dengan tatacaraberdoa masing-masing
10 belajarlah dgn sanenag ahti. jangan merasa terpaksa. karena belajar itu kebutuhan
temen-temen, kita gakperlu menjadikan skizofrenia sebagai kambing hitam untuk tidak belajaratau beraktifitas. Kalo kita kebanyakan bengong dan ngelamun... ntar malah gak sembuh2. coba cari kesibukan untu kmengalihkan perhatian. gak ada istilah " skizofrenik dilarang belajar!"

kayaknya segitu aja deh... tips-tips buat para ODS. kalo sekiranay cocok, dan "possible"untuk dilakukan, ya lakukan aja... tapi kalo gak... mungkin temen2 punya cara lain biar lebih produktif. Pokoknya jangan berhenti berharap!!! jangan berhenti bercita-cita!
Chayooo!!!
Salam
miza si Skizofrenik "gaul":)

Kamis, 20 Mei 2010

akhirnya

baru kali ini aku merasa bahagia sebagai penderita skizofrenia,
perasaan yang jujur dari dalam hati saat memandangi wajah-wajah mereka dari dekat
andaikan aku bisa menggantikan seribu kata dengan satu senyuman. Aku ingin hanya tersenyum saja. karena itu mengungkapkan lebih dari kerinduan hati yang kusimpan selama hampir lima tahun lamanya.

sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, saat aku pertama kali difonis sebagai penderita skizofrenia, sejak aku harus melewati setiap detik untuk melawan bisikan-bisikan yang mendengung di telingaku, saat aku merasakan betapa bahagianya menangis dan betapa sakitnya tertawa, aku ingin ada seseorang yang ada di dekatku dan berkata, "tidak apa-apa kamu akan baik-baik saja."

KPSI, Komunitas Peduli Skizofrenia. Ketika pertama kali aku melihat wajah-wajah itu di sana. dan kita berbicara dari hati- ke hati. mengungkapkan segala sakit yang kita rasakan. hidup yang terlampau misterius untuk dijalani. seperti hutan lebat gelap yang mustahil untuk dijelajahi. aku merasa seperti sedang berkaca pada sungai yang jernih, memantulkan bayanganku sendiri. utuh, penuh, tanpa cela. dan ketika kami saling menghayati rasa sakit yang menjalari jiwa kami. sayup-sayup aku mendengar seseorang membisikkan kedamaian dalam hatiku. " tidak apa-apa, kamu akan baik-baik saja."

untuk teman-temanku sesama penderita skizofrenia, atau siapa pun yang keluarga atau teman dekatnya terkena penyakit ini. marilah kita sama-sama saling menguatkan. memberi motivasi. memberi inspirasi. karena kita sama-sama mengerti bahwa hidup ini tak sesederhana seperti apa yang orang lain pikirkan tentang kita.

karena kita tidak sendiri
karena kita adalah satu keluarga

Senin, 30 November 2009

How to deal with schozophernia sickness

Do you believe that sick people can win the Nobel Prize? You are extremely wrong if you don’t believe this. John Forbes Nash Junior, who has schizophrenia won the Nobel Prize for inventing economic equilibrium theory. Schizophrenia is a mental disorder, caused by abnormalities of dopamine and serotonin in the brain. Those abnormalities can cause delusions and hallucinations which can disturb the schizophrenic’s life. Many schizophrenics are dead because they cannot control themselves; therefore, they usually commit suicide. Although the sickness is horrible and terrible, schizophrenics don’t need to be afraid. I have schizophrenia too, but I can control myself so that I can live in society and even achieve the winning prize in the Koran competition. So, I would like to explain how to deal with schizophrenia, including how to control ourselves, how to encourage ourselves and how to be a confident schizophrenic.

In many cases, schizophrenics cannot control themselves. It is because they are influenced by hallucinations and delusions. They see something horrible but actually it is not real, they also hear something that is not real. The hallucinations and delusions instruct them to do something, like committing suicide, and convince the individual of a false reality. If the hallucinations come, you may ignore it. Try to control yourselves as well as possible. Believe that the sound that you hear is not real. Use your logical thinking. In addition, as a schizophrenic, don’t feel like a minority in the society even though people are mocking you. Encourage yourselves by doing some activities that you like. Sometimes I write to calm myself. I also like reading poetry and doing theatre. If you are motivated, you will be confident. Try to join some organizations that can build your self esteem. If you can do it, just try to communicate with your closest neighbour or friends. Believe that you have the same capability as others have.

Rabu, 15 Juli 2009

bulan tertusuk ilalang....

meski sungai itu telah tenang
tapi batu masih terbenam di dasarnya

dan itu tak kan bisa merubah apa-apa

Kamis, 23 April 2009

finally

finally...... I found what is inside my heart....



inilah yang aku temukan... inilah yang ada di hadapanku

selama ini sungguh aku tak mengenali diriku sendiri, siapa aku dan apa yang aku inginkan

kini, aku melihat kenyataan yang membuatku terkejut bahwa diriku yang sebenarnya tidak seindah dan sebagus apa yang selama ini aku pikirkan.

kenyataan bahwa aku adalah seseorang yang kadar dopamin dan serotoninnya tidak normal.

selama ini, sungguh meskipun aku tahu bahwa aku seorang skizoprenic , aku tetap tak memperdulikan apa yang seharusnya aku lakukan untuk menyembuhkan penyakitku.
aku begitu meremehkannya... penyakit apa ini, pikirku. aku merasa bisa beraktifitas seperti orang normal tanpa tahu batas dimana aku tak mampu mengerjakannya.

dan ternyata.... aku tetaplah seorang skizofrenik yang harus berkutat dengan obat dan injeksi. aku menyadari bahwa diriku tidak bisa disamakan dengan orang normal lainnya. aku menyadari bahwa tubuhku ini lemah....dan tidak berdaya.

selama ini, sungguh aku memaksakan diriku untuk bisa melebihi orang normal. aku ingin menunjukkan bahwa schizophrenioc juga bisa berguna. schizophrenic bukanlah sampah yang dibuang oleh masyarakat. tapi aku lupa, bahwa memang segala tenagaku, pikiranku tetap tidak bisa melebihi orang normal. sekuat apa pun aku berusaha. tetap saja aku tak bisa menentang takdir.

takdir sudah tergariskan, aku harus menjalani kehidupanku selanjutnya. aku tetap akan berusaha sekuat tenaga untuk menjalani hidupku. aku tidak mau menjadi sampah. tapi aku akan lebih menyayangi diriku dan tidak memaksakan diri jika memang aku tidak bisa melakukannya. aku akan lebih mensyukuri apa yang telah diberikan Allah padaku. Baik atau buruk.

biarlah rasa iri dan sakit hati itu terbang bersama angin yang membawa lari kenangan masa lalu

Sabtu, 21 Maret 2009

suara hati seorang skizofrenik

baru hari ini aku menyadri, bahwa label itu tetap melekat pada diriku
aku yang menyendiri, aku yang pelupa, aku yang teledor, aku yang tidak pernah memperhatikan dengan kondisi di sekitarku.
aku sering melamun, bahkan pikiran terlihat kosong, perkataan ku pun sangat menyakitkan hati...
itu kata mereka...
teman2 ku

aku tidak sakit hati karena teman2 ku menegurku
aku hanya "nelangsa" betapa sampi hari ini aku bersikeras untuk menjadi orang normal. tapi tetap saja.... ingatan jangka pendekkus emakin melemah
dan orang lain tidak bisa memahami aku
lalu aku harus bagaimana?
aku harus bertindak seperti apa
tetap saja aku sendirian tidak punya teman
aku memang seharusnya menerima keadaan dengan sikap lapang dada
tapi sakit rasanya menanggung beban ini
any body help me?

Jumat, 13 Februari 2009

how to heal my anxiety

I believe that everyone has anxiety when they face such a kind difficult problem in their life. but for me, as a schizophrenic, anxiety often make me scared to face my problems. I have too much anxiety in my life so that I feel like "they" want to "catch" me. sometimes i feel tired to handle it. Does anybody can help me?????

Senin, 09 Februari 2009

And The Strory Goes on........

akhirnya, aku memberanikan diri untuk menulis di blog ini. setelah melalui pertimbangan yang panjang, mengalahkan rasa malas dan seganku.

ya, aku adalah seorang penderita schizophrenia yang sampai sekarang masih terus menkonsumsi obat untuk "bertahan hidup".

tapi aku merasa lebih beruntung daripada penderita yang lainnya. aku bisa kuliah dan bergaul dengan teman-teman seperti layaknya remaja normal. meskipun aku masih selalu merasa sendiri di tengah keramaian.

aku berharap dengan menuliskan kisahku di blog ini aku bisa berbagi dengan para penderita skizofrenia yang lain. aku ingin sekali berbagi cerita dengan para schizoprenics. mungkin kita bisa saling membantu, atau paling tidak bisa mengerti perasaan satu sama lain.

kurasa sudah bukan jamannya lagi penderita skizpfrenia terpinggirkan dan terisolasj. mereka juga punya potensi yang sama dengan orang-orang normal lainnya. John Nash, Jr( you inspired me , my oldman) adalah schizoprenic yang berhasil meraih hadiah Nobel atas prestasi gemilang yang telah diukirnya. Equilibrium Nash, teori yang ia temukan banyak dipakai di berbagai bidang, terutama ekonomi dan matematika.

meskipun nantinya aku tidak bisa sesukses John Nash, tidak punya penghargaan apa-apa, paling tidak aku bisa menjadi orang yang berguna di masyarakat. apalagi kalau bisa menolong para penderita skizofrenia yang lainnya.

I have passed such a kind "dark ages" in my life. but i will have my "renaissance" from now.... and the story goes on....